VISI NARASI AKSI

Hari-hari dalam minggu yang berat telah berlalu, sepertinya baru kemarin kita melakukan persiapan untuk melakukan diskusi dalam acara bedah buku “strategi anak muda Indonesia meraih beasiswa di 15 negara.” Sesuai arahan dari founder Spectrum, Pak Fitron Nur Ikhsan, kita mempunyai tugas untuk mensukseskan bedah buku yang akan di isi oleh expert dibidang beasiswa luar negeri. Beliau adalah mas Radyum Ikono salah satu Lulusan Nanyang Technological University (NTU) Singapore. Mendengar tema itu, kami di tim Spectrum sangat exited dan menunggu dengan tidak sabar seperti apa jadinya acara nanti. Lalu bedah buku pun telah usai dengan kesuksesan yang luar biasa. Peserta melampaui target dari 100 orang yang telah ditarget panitia. Alhamdulillah menjadi kurang lebih 180 orang peserta hadir di acara. Luar biasa.

Kami di awal telah membentuk tim kerja yang beranggotakan 11 orang. Diantaranya Asep sebagai ketua panitia, Mila dan Echi sebagai sekretaris dan bendahara, Ibo dan Ahmad sebagai tim peralatan dan teknis, Qomat acara, Ruhiyat dan Andria sebagai publikasi, Agus dan Ika penjemput pembicara sekaligus mengambil buku dari percetakan di depok. Saya sendiri sebagai tim supervisi. Tim kerja yang dibangun bukanlah sekedar panitia biasa yang melaksanakan kegiatan rutin. Tim kerja ini merupakan latihan kecil dalam manajemen perusahaan sekaligus uji coba kuatkah sistem perusahaan dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul.

Acara bedah buku ini juga merupakan latihan kepemimpinan secara langsung bagi tim. Soal kepemimpinan, kami tidak hanya belajar untuk bisa memimpin, tapi kami juga harus belajar agar siap dipimpin. Seseorang bisa saja berhasil memimpin, tapi tidak banyak dari kita yang berhasil melewati ujian dipimpin. Sebagai contoh, bayangkan, menyebar surat memang tugas biasa, atau menghadiri rapat kordinasi juga biasa. Keduanya adalah rekomendasi rapat yang dilahirkan sistem. Kepatuhan kita terhadap arahan sistem adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Jadi dalam persoalan ini, tugas kecil yang direkomendasikan oleh sistem tidak dapat dianggap sepele. Setiap kita mempunyai tugas kecil, pekerjaan itu harus kita anggap sebagai amanah besar yang perlu dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Apabila tugas kecil itu tidak dikerjakan, hal tersebut akan mengukur ada dimana posisi kita dalam mematuhi sistem. Patuh atau tidak patuh.

Selain itu, bedah buku ini menjadi tidak biasa mana kala Spectrum akan memasuki tahun kedua dalam perintisan perusahaan startup kami. Perusahaan yang bergerak di bidang konsultan politik, analis media dan pendidikan ini terus melakukan pembenahan disana-sini. Jika tahun awal kami berfokus pada penguatan Visi, di tahun kedua kami akan berfokus pada perapihan administratif yang lebih rigid. Dengan merigidkan administrasi kami berharap perusahaan ini mampu menghadapi tantangan zaman di masa yang akan datang.

Tahun 2017 akan segera ditutup dalam waktu kurang dari dua minggu, mari kita siapkan resolusi perusahaan kita pada tahun 2018. Sejumlah pekerjaan rumah telah menanti untuk dituntaskan; BPJS anggota Spectrum, membangun basecamp pergerakan, mendaftarkan perusahaan dalam keanggotan LPSE, target pendapatan sebesar 2 Milyar, merapihkan sistem keuangan, mendidik kader baru untuk menguatkan jejaring. Inilah yang kami maksud langkah ideologi ke administrasi. Sebuah komunitas yang mempunyai visi kuat tidak akan pernah bertahan lama tanpa administrasi yang rapih. Oleh karena itu, mengadministrasi visi merupakan keharusan yang tidak dapat ditunda.

Yang terpenting, saling terkoneksinya jejaring kecil dalam perusahaan dapat membuat sistem semakin berkembang. Saling membesarkan saling memberdayakan dan saling mempertahankan. Keberhasilan sistem bukan bertujuan hanya membesarkan orang pribadi. Yang harus diperjuangkan adalah visi lembaga dan kekuatan narasinya.

Loyalitas paripurna kita adalah kepada visi yang telah di tetapkan dalam renstra yang telah disepakati bersama. Yaitu dalam 5 tahun kedepan kita punya slogan Spectrum digdaya 2021. Secara detil di tahun tersebut, sistem yang dibangun telah mampu  melahirkan sistem-sistem kecil baru yang menjadi mesin kemandirian.

Mari menuju digdaya!

Pandeglang, 14 Desember 2017 Pukul 22.42 WIB

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *